Breaking News

Ngenger Pay It Forward : Dibiayai Rp65 Juta untuk Kerja di Jepang, Irsyad Kini Bantu Peserta Lain



Tiga Poin Penting:
  • Ngenger Pay It Forward memberikan dukungan pembiayaan dan pembinaan bagi anak muda yang ingin mengakses peluang kerja maupun pendidikan.

  • Irsyad, mantan guru dengan penghasilan sekitar Rp1 juta per bulan, kini bekerja sebagai pengemudi truk di Jepang dan mulai berkontribusi bagi peserta lain.

  • Program ini juga membuka jalur kewirausahaan, dengan transparansi pembiayaan, perlindungan peserta, dan kejelasan hak sebagai aspek penting yang perlu diperhatikan.

Dari Pelatihan hingga Pay It Forward, Cara Agung Prasetyo Membina Anak Muda

Warta Jatim — Kesempatan memperbaiki kondisi ekonomi tidak selalu berhenti ketika seseorang mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan lebih baik. Bagi peserta Ngenger Pay It Forward, keberhasilan juga diharapkan menjadi awal untuk membantu orang lain memperoleh kesempatan serupa.

Prinsip tersebut terlihat dari langkah Irsyad Nawawi Rafsanjani. Setelah menerima gaji pertamanya sebagai pengemudi truk di Jepang, ia menghubungi Agung Prasetyo Utomo atau Pak APU untuk menanyakan cara menyalurkan sebagian penghasilannya kepada peserta lain.

Irsyad sebelumnya bekerja sebagai guru dengan pendapatan sekitar Rp1 juta per bulan. Lulusan UIN Bandung itu kemudian mengikuti persiapan untuk bekerja di Jepang selama kurang lebih satu setengah tahun. Berdasarkan informasi yang dibagikan Agung, biaya persiapannya mencapai sekitar Rp65 juta dan ditanggung melalui program Ngenger Pay It Forward.

Dalam percakapan WhatsApp yang dibagikan Agung, Irsyad menyampaikan keinginannya menyisihkan uang untuk membantu peserta lain, termasuk memenuhi kebutuhan beras dan telur. Agung kemudian menyarankan agar dana tersebut disimpan terlebih dahulu sampai penerimanya ditentukan.

“Selamat ya kamu udah bisa mencari uang sampai ada sisanya maka kamu mesti belajar naik level ke Mengelola Uang,” tulis Agung dalam balasannya.

Dalam pembaruan yang disampaikan Agung, Irsyad telah mengalokasikan Rp2,5 juta untuk Pay It Forward dan Rp500 ribu untuk membantu kebutuhan pangan peserta lainnya. Langkah tersebut sejalan dengan gagasan program, yakni mendorong penerima bantuan agar kelak turut memberikan manfaat kepada orang lain.

Pengalaman Agung menjadi latar pembentukan program

Ngenger Pay It Forward digagas Agung Prasetyo Utomo, yang dikenal sebagai Pak APU. Program ini menggabungkan pembiayaan, pelatihan keterampilan, pembelajaran bahasa asing, pembinaan karakter, serta pendampingan administrasi untuk membuka akses kerja atau pendidikan di luar negeri.

Agung memiliki pengalaman bekerja di Jepang pada 2003–2005. Ia menuturkan bahwa dirinya mencapai kebebasan finansial atau financial freedom pada 2016, ketika berusia 38 tahun. Pada 2026, usianya 48 tahun.

Perjalanan tersebut juga dituangkan dalam buku Kuadran Kelima, yang mengisahkan perjalanan hidup dan keuangannya dari seorang karyawan hingga menjadi miliarder.

Dalam salah satu unggahan media sosial, Agung menyampaikan keyakinannya mengenai keberadaan struktural kemiskinan. Ia menilai keterbatasan modal, akses informasi, pelatihan, dan jaringan dapat membuat seseorang kesulitan memperoleh pekerjaan dengan penghasilan lebih baik, meskipun memiliki kemauan untuk bekerja.

“Saya meyakini struktural kemiskinan itu ada makanya saya biayain anak ngenger saya kerja ke luar negeri,” tulis Agung.

Gagasan tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan. Agung juga memperkenalkan lima tahapan pengelolaan uang, yaitu mencari, mengelola, melipatgandakan, melindungi, dan mendistribusikan. Tahap terakhir menjadi dasar penerapan prinsip Pay It Forward, ketika peserta yang sudah mampu secara ekonomi diharapkan ikut membantu generasi berikutnya.

Pembiayaan disesuaikan dengan kebutuhan peserta

Konsep ngenger yang digunakan Agung diadaptasi dari tradisi Jawa. Istilah tersebut merujuk pada proses mengikuti seseorang yang lebih berpengalaman untuk belajar, termasuk melalui aktivitas kehidupan sehari-hari.

Dalam penerapannya, peserta tidak hanya memperoleh bantuan biaya, tetapi juga mengikuti pembinaan untuk membangun kedisiplinan, kesabaran, kemandirian, dan tanggung jawab.

Berdasarkan penjelasan pengelola, nilai bantuan dapat berkisar antara Rp1 juta hingga Rp100 juta, bergantung pada kebutuhan dan jalur yang ditempuh peserta. Pembiayaan tersebut dapat mencakup tempat tinggal, kebutuhan hidup selama persiapan, kursus bahasa, pelatihan kerja, transportasi, hingga dokumen keberangkatan. Agung juga menyebut Yayasan Juara dalam sejumlah penjelasan terkait pembiayaan peserta.

Meski demikian, Agung menyebut skema ngenger sebagai pilihan terakhir bagi anak muda yang tidak memiliki akses pembiayaan lain. Bekerja sambil menabung atau mencari skema pembiayaan resmi tetap dapat menjadi alternatif sesuai kondisi masing-masing.

Seleksi mempertimbangkan latar belakang calon peserta

Sebelum mengikuti program, calon peserta menjalani proses seleksi. Sejumlah aspek yang dipertimbangkan meliputi pendidikan, pekerjaan, kondisi ekonomi keluarga, kemampuan bahasa, kesehatan, serta kesiapan dokumen seperti paspor dan surat izin mengemudi.

Salah satu peserta yang mengikuti pembinaan adalah Hasbi, lulusan SMK asal Tasikmalaya. Sebelum bergabung, ia bekerja sebagai petugas kebersihan dengan penghasilan sekitar Rp1,1 juta per bulan.

Sebagai anak sulung dari empat bersaudara yang telah kehilangan ayah, Hasbi mengikuti pembinaan di kawasan kebun durian Mancak, Serang. Pada malam hari, ia mempelajari bahasa Jepang sebagai bagian dari persiapan menuju peluang kerja.

Dalam pesan yang dibagikan Agung, ibu Hasbi menceritakan adanya pertanyaan dari kerabat yang menginginkan anaknya langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, keterbatasan dana membuat keluarga mempertimbangkan pilihan lain yang dinilai lebih memungkinkan.

Selain jalur pekerjaan di luar negeri, program ini juga menyediakan kesempatan belajar berwirausaha. Salah satunya melalui Pentol Panglima Gerobak Pay It Forward.

Dalam skema yang dijelaskan Agung, Niko memperoleh dukungan modal awal sekitar Rp8 juta untuk menjalankan usaha tersebut. Ia disebut mendapatkan bagian sebesar 18 persen dari omzet, sementara risiko kerugian usaha ditanggung penyelenggara sesuai ketentuan skema. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana belajar mengelola usaha dan melayani pelanggan.

Peserta memiliki jalur dan hasil yang berbeda

Pengalaman Nova menjadi contoh lain dari peserta yang memperoleh kesempatan bekerja di luar negeri. Sebelum mengikuti program, laki-laki asal Sukoharjo tersebut bekerja sebagai guru dengan pendapatan sekitar Rp2 juta per bulan.

Menurut keterangan Agung, Nova kini bekerja di sektor pengolahan daging di Australia melalui skema Working Holiday Visa (WHV). Penghasilannya disebut mencapai sekitar Rp70 juta per bulan, dengan tabungan berkisar Rp35 juta hingga Rp40 juta.

Nova juga disebut telah mengembalikan biaya riil keberangkatan sekitar Rp28,3 juta. Dana tersebut selanjutnya dapat diputar untuk membantu peserta lain.

Angka penghasilan Nova merupakan laporan mengenai pengalaman individu, bukan patokan pendapatan atau jaminan hasil bagi seluruh peserta program.

Sementara itu, Rahmad, anak sulung dari enam bersaudara asal Batam, disebut telah memperoleh kontrak kerja sebagai pengemudi truk di Jepang. Namun, berdasarkan pembaruan yang menjadi dasar tulisan ini, proses dokumen keberangkatannya masih berlangsung.

Dengan demikian, perkembangan peserta tidak berada pada tahap yang sama. Ada yang telah bekerja, masih menjalani pelatihan, menunggu kelengkapan dokumen, hingga memilih mengundurkan diri.

Agung juga menegaskan bahwa tidak semua pemohon dapat diterima. Dalam salah satu unggahannya, ia menulis, “Membantu orang itu bukan Kewajiban. Membantu orang itu pilih pilih.”

Kejelasan hak dan pembiayaan menjadi bagian penting pembinaan

Model pembinaan yang diterapkan melalui ngenger juga memerlukan keterbukaan mengenai hubungan antara peserta dan pengelola. Agung menggambarkan adanya aktivitas rumah tangga, tuntutan kedisiplinan, serta pembentukan kebiasaan selama peserta tinggal di lingkungan pembinaan.

Dalam pelaksanaannya, ketentuan mengenai kegiatan harian, waktu istirahat, hak peserta, mekanisme pengaduan, dan kebebasan untuk mengundurkan diri perlu dipahami sejak awal. Kejelasan tersebut penting agar aktivitas pembinaan tidak menimbulkan perbedaan pemahaman mengenai batas antara proses belajar, pengabdian, dan pekerjaan.

Ketentuan keuangan juga perlu disampaikan secara tertulis. Program mengharapkan peserta yang berhasil dapat meneruskan manfaat melalui Pay It Forward. Namun, dalam kondisi kegagalan atau pembatalan tertentu, biaya yang telah dikeluarkan disebut dapat menjadi kewajiban pengembalian.

Karena itu, calon peserta perlu memperoleh penjelasan yang mudah dipahami mengenai perbedaan bantuan, penggantian biaya, dan utang, termasuk kondisi yang dapat memunculkan kewajiban pembayaran.

Peluang kerja di luar negeri juga memiliki sejumlah risiko. Kegagalan seleksi, perubahan persyaratan, kendala dokumen, hingga situasi ketenagakerjaan di negara tujuan menjadi hal yang perlu diperhitungkan. Keberhasilan program karenanya tidak cukup diukur dari besarnya pendapatan alumni, tetapi juga perlu memperhatikan keselamatan, pemenuhan hak, dan kemandirian peserta.

Keberlanjutan program bergantung pada kontribusi alumni

Pay It Forward dirancang agar manfaat pembiayaan tidak berhenti pada satu orang. Peserta yang telah bekerja dan memiliki kemampuan finansial diharapkan membantu angkatan berikutnya melalui dukungan dana, berbagi pengalaman, ataupun pendampingan.

Agung menyatakan bahwa komitmen tersebut tidak selalu dituangkan dalam perjanjian tertulis. Pengalaman Irsyad memperlihatkan bahwa inisiatif membantu peserta lain dapat muncul setelah seseorang mulai memperoleh penghasilan.

Meski demikian, keberlanjutan program dapat dinilai lebih terukur melalui informasi mengenai jumlah peserta, perkembangan proses keberangkatan, hasil pekerjaan, penggunaan dana, keselamatan, serta kontribusi alumni.

Agung juga membuka kemungkinan keterlibatan mentor atau ayah asuh dari kalangan pengusaha, profesional, maupun diaspora. Namun, bentuk kemitraan dan pembagian tanggung jawabnya masih memerlukan mekanisme resmi yang jelas. Rincian mengenai jalur kerja sama tersebut belum dijabarkan dalam bahan yang menjadi dasar artikel ini.

Perubahan yang dialami Irsyad menunjukkan salah satu kemungkinan hasil dari perpaduan pembiayaan dan pendampingan. Dari pekerjaan sebagai guru dengan penghasilan sekitar Rp1 juta per bulan, ia kini bekerja sebagai pengemudi truk di Jepang dan mulai menyisihkan uang untuk membantu peserta lain.

Bagi Ngenger Pay It Forward, keberhasilan tidak hanya diukur dari kesempatan seseorang memperoleh pekerjaan atau pendapatan lebih tinggi. Program ini juga membawa harapan agar penerima manfaat memiliki kemampuan untuk meneruskan kesempatan kepada orang lain.

Agar tujuan tersebut berjalan berkelanjutan, transparansi pengelolaan dana, perlindungan peserta, kejelasan hak dan kewajiban, serta pelaporan hasil menjadi aspek yang tidak terpisahkan dari upaya pembinaan.

Kata kunci: Ngenger Pay It Forward, Agung Prasetyo Utomo, peluang kerja luar negeri

© Copyright 2026 - Portal Berita Jakarta