Rendang Gadih menandatangani nota kesepahaman dengan buyer asal Belanda dalam Trade Expo Indonesia 2026 di ICE BSD City, Tangerang.
Produsen rendang asal Payakumbuh tersebut telah memasarkan produknya ke sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Jerman, Australia, dan Swiss.
Perusahaan menargetkan perluasan jaringan distribusi di Eropa dengan mengandalkan produk bercita rasa autentik dan standar pengolahan pangan.
Warta Jatim — Produsen kuliner khas Minangkabau, Rendang Gadih, memperluas peluang bisnisnya di pasar Eropa melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan buyer asal Belanda. Kesepakatan ini ditandatangani dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 Tahun 2026 yang berlangsung pada 14–18 Oktober di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari strategi PT Gadih Minang Anugerah, perusahaan yang menaungi brand Rendang Gadih, untuk mengembangkan jangkauan pemasaran di luar negeri. Melalui kemitraan ini, perusahaan berharap dapat memperluas distribusi, meningkatkan volume ekspor, serta menjajaki peluang pasar baru di kawasan Eropa.
Direktur PT Gadih Minang Anugerah, Dedy Syandera Putera, menyampaikan bahwa pengembangan rendang sebagai produk komersial perlu berjalan seiring dengan pemeliharaan karakter kuliner tradisional.
“Kami ingin menunjukkan bahwa makanan tradisional seperti rendang dapat dikembangkan menjadi produk yang modern, higienis, praktis, dan mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional. MoU ini menjadi awal untuk membangun kerja sama yang berkelanjutan dan memperkuat kehadiran Rendang Gadih di pasar Eropa,” ujar Dedy.
Berbasis di Payakumbuh, Sumatera Barat, Rendang Gadih telah beroperasi sejak 2015. Perusahaan kini memiliki lebih dari 20 varian produk, mencakup rendang kemasan, makanan siap saji, dan bumbu masak. Ragam produk tersebut dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen sekaligus menyesuaikan diri dengan karakter pasar internasional.
Untuk mendukung pemasaran ekspor, perusahaan memadukan cita rasa autentik Minangkabau dengan proses produksi modern dan terstandarisasi. Rendang Gadih menyebut telah didukung sejumlah sertifikasi dan standar, antara lain Halal, BPOM RI MD, HACCP, SNI, dan NKV. Perusahaan juga menggunakan teknologi pengolahan pangan untuk mendukung keamanan serta daya simpan produknya.
Sebelum menjajaki kerja sama dengan buyer Belanda, produk Rendang Gadih telah dikirim dan dipasarkan ke beberapa negara, yakni Amerika Serikat, Australia, Jerman, Malaysia, Singapura, Swiss, dan Taiwan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkenalkan kuliner Minangkabau kepada konsumen global serta membangun hubungan dengan buyer dan distributor internasional.
Keikutsertaan Rendang Gadih dalam TEI 2026 juga berlangsung di tengah upaya mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan mitra dagang dari berbagai negara. Kementerian Perdagangan mencatat 168 nota kesepahaman antara pelaku usaha Indonesia dan buyer dari 22 negara pada hari pertama pameran, dengan potensi transaksi mencapai USD 13,2 miliar. Belanda turut tercatat sebagai salah satu negara dengan potensi transaksi besar dalam penyelenggaraan tersebut.
Melalui MoU ini, Rendang Gadih berharap dapat memperkuat posisi produknya di pasar internasional sekaligus memperluas pengenalan rendang dan kuliner Minangkabau sebagai produk pangan Indonesia yang mampu bersaing di pasar global.
Kata kunci: Rendang Gadih, ekspor rendang, Trade Expo Indonesia 2026


Social Header